Wednesday, September 19, 2007

thanks to>

63 tahun yang lalu kalau aku sudah ada didunia ini, aku yakinkan bahwa kalian adalah musuhku. Tapi syukurlah aku atau juga kalian belum dilahirkan pada masa itu. Jepang, itu negeri kalian yang sekitar 60 tahun yang lalu menjajah negeriku. Telah berapa nyawa yang hilang ditangan kalian waktu itu. Tapi itu masa lalu. Aku senang sekali bahwa ternyata bangsa kalian tidak seperti yang ada dibayanganku ketika membacai buku-buku sejarah. Sekarang, semua berubah aku kira. Sejak kalian satu meja makan dengan bangsaku dan terutama aku sendiri selama 6 hari ini, aku sadar bahwa kalian dan juga aku dan bangsaku adalah sama.

Thanks to>

Mr. Yamane : you look like my father. thanks for all.

Mr. George : I know your English not well. But in my eyes you a strong and great leader.

Oto san : you a funny guys, I like your style. Mak nyus…!!! Ok, this time to drink sake…!

Yasu : koplak koe…!!! Do you know “katrok”? I think you a katrok man…!!! Some day you will be a great leader. Sukareta ne…!!!

Masa : next time you must learn me how to play Goo…, you a good Pastor…!!!

Ishii : you a smart girl, pardon if my English very bad…!

Godzilla : monster not cry, don’t cry again. I’ll “to be with you” always in your heart.

Meg : a pretty girl, I want give you my smile. Arigatou…!

Satoko : I thing you can speak Indonesian well. And will be appreciate if you want send me a massage in Indonesian…!

Arisa : wake up arisa…!!! Don’t sleepy again…!

Sawa (without H) : you a nice friend, I like your smile. You look so cute when you smile. Ok, I’ll sing a song for you again…!

rico : gue suka gaya loe..., coll man...!!!

ike : mbak ike..., maturnuwun...,

cristian : thanks banyak, tanpa dirimu aku bakalan keteteran ngatur children festival...,

yosua : jos, matur nuwun yo, tetep semangat...! salam untuk teman dilampung,...!!!

vokusisi : gila loe bisa gaet cewek jepang,... thanks...,

Tony : keep fight...!!!, thanks,...!!! UOUS

Hendrikus : gue suka cara loe main bas...!!! ajarin aku kapan-kapan ye..!

vivi : maturnuwun ndut...!!! hehehe,...

Agnes : hoi wong bantul udah boleh sekarang pake "elo-elo ama Gue-gue" kok..., maturnuwun...

Andreas : ajarin caranya moto2 yang keren ya..., thanks

ani : mbak jangan cerewet donk...hehehe, just kidding..., maturnuwun...

Putra : matap...!!! senang bisa ketemu sama orang gila kayak kau...!!!

Rita : makasih ya... keep fight...!!!

Cimo : ada yang naksir loe tu..., yang pasti bukan yasu...hehehe

Padma : matur thanks mbak...

Joel : makasih atas semua bantuannya...

NOvan : van, gimana tu "target"nya, dapat gak? thanks...

Dani : kok gak muncul, makasih untuk caping dll...

Mrs. Yudith : matur nuwun..., kalu kita bisa ke jepang kayaknya seru...

Yesa : makasih bos kecil...

Ronald : thanks untuk farewel party nya..., bagus banget...!!!

Pak sur : maturnuwun udah ngatarin kita muter-muter...

Pak satpam : maaf kalau banyak nyusahin...thanks...

anak-anak asrama : thanks dap...

semua yang udah bantuin di youth camp thanks ya...

Readmore »»

Tuesday, August 7, 2007

lewat secangkir moccacino

Pagi itu seperti biasa aku antar adiku sekolah setelah itu tenggelam dalam buku, kali ini aku baca Gadis Pantai-nya Pram. Aku jadi ingat beberapa hari yang lalu, pagi itu aku duduk di Garden sambil menikmati mocacino hangat. Memang bukan kebiasaanku minum mocacino, biasanya aku selalu pesan pop ice vanilla blue. Mungkin karena pagi ini begitu dingin jadi aku ingin mocacino hangat.

Beberapa serup mocacino kamu masuk ke Garden. Aku tak tahu namamu, tapi aku kenal dengan senyum yang indah itu. Senyum yang cerah, secerah senyum gadis pantai dalam karya pram. Kamu duduk berjarak 2 meja dari ku. Sesekali ku buang pandanganku dari buku yang kubaca ke matamu yang jernih lengkap dengan bulu mata yang lentih dan halus hitam. Matamu yang bulat melirik manja penuh makna.

Huh kamu gadis pantai, indah benar matamu, berkilau seperti mutiara hitam.

Beralih aku ke rambutmu yang tergurai-gerai, nyaris tak tertertandingi kilau rambutmu, bak telaga dipayungi bulan pucat. Datang pesananmu, segelas juice jeruk. Ku lihati bibirmu yang mungil ketika menyentuh gelas juice mu. Tak ada yang semerah itu bibir diantara kaum hawa yang kukenal.

Kau kulum senyummu ketika aku tertangkap oleh matamu. Aku bahkan tak pernah melihat bidadari seputih kulitmu, aku yakin kulitmu begitu lembut selembut sutera. Gerak tanganmu seolah penari bali begitu energik dan mengemaskan. Tak kulewatkan pula dagumu yang tak begitu lancip dan hidungmu yang bangsir. Pecayalah ketika kamu bercermin kamu akan mendapati bidadari didalam cerminmu.

Kuserup lagi capucinoku, lalu berandai-andailah aku. Seandainya aku dan kamu menyatu dalam satu ikatan batin. Maka aku inginkan kisah cinta yang tulus setulus kisah cinta antara setadewa dengan larasati dalam Burung-Burung Manyar karya Mangun Wijaya, atau kisah cinta yang unik seperti kisah Roman dan Wulandari yang unik dalam Roman Picisan karya Edi.D.Iskandar, atau juga kisah cinta yang tabah, setabah perjuangan Minke dalam mempertahankan cinta Annelies dalam Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer.

Lewat sebuah perkenalan dimasa kecil, Teto (panggilan setadewa) dan Atik (penggilan larasati) ditautkan oleh waktu. Dimasa penjajahan colonial belanda Teto sebagai anak seorang kaptein KNIL berdarah ningrat, tumbuh tak seperti kebanyakan nigrat, Teto lebih memilih menjadi anak kolong. Kelak suatu saat Ia bertekat untuk menjadi pasukan KNIL seperti ayahnya. Masuk jepang ke hindia-belanda menggantikan belanda membuat Teto yang semasa itu menganggap belanda sebagai pemimpin yang seharusnya menentukan nasib bangsa ini menjadi geram. Ditambah lagi dendamnya terhadap jepang yang telah merampas keluarganya. Ayahnya ditawan, sedangkan ibunya dijadikan gundik. Pasca pendudukan jepang, setelah kemerdekaan diumumkan, Teto tetap memihak pada belanda. Pernah suatu ketika diberondonganya dengan peluru mobil yang ditumbangi oleh syahrir, bahkan nyaris Teto mengahbisi nyawanya.

Dilain pihak Atik tumbuh menjadi seorang gadis yang ikut serta dalam perjuangan bangsa indonesia meraih kemerdekaan melalui jalur diplomasi. Bersama petinggi-petinggi Indonesia waktu itu, Atik berusaha sekuat tenaga untuk berdiplomasi guna mempejuangan kemerdekaan. Bahakan Atik juga memabtu didapur umum ketika perang geriliya jendral sudirman.

Perang telah usai tapi perang batin dalam hati teto masih meledak-ledak. Ia masih belum bisa menerima kekalahan belanda. Dan ketika tahu bahwa atik beraada pada blok kemerdekaan Indonesia, bertambahlah beban dihatinya. Dilapangan perang atik adalah musuh, tapi dilain pihak atik adalah penguasa hatinya.

Sepuluh tahun setelah itu Teto sudah menjadi seorang ahli computer, suatu ketika Teto berkesempatan menghadiri semina disertasi atik tentang perilaku burung-burung mayar. Dari situ dimulai lagi konflik batin yang pelik. Atik sudah bersuami. Karena desakan Atik Teto tinggal diRumah Atik bersama keluarganya.

Cinta Teto tak lekang karena waktu, Atik pun demikian. Namun karena Atik sudah bersuami, maka tak mungkinlah mereka bersatu, lagi pula keadaan sudah berubah. Bahkan suami Atik menganggap Teto seperti kakak sendiri. Perang batin itupun akhirnya juga berakhir. Atik meninggal dalam penerbangan ketanah suci mekah. kemudian ketiga anak Atik diangkat sebagai anak Teto.

Aku inginkan cinta yang tulus seperti itu, atau juga cinta yang unik antara Roman dengan Wulandari. Tersebutlah Ramon sang pujangga sekolah yang terkenal dengan sajak-sajaknya yang picisan. Sayang Roman tak pernah menaklukkan salah satu kaum hawa disekolahnya dengan sajak-sajak picisannya. Walaupun begitu bukan berarti sajak-sajaknya tidak ampuh, teman-temannya sering memintal bantuan untuk membuatkan surat cinta dan hasilnya sudah pasti berhasil (sejauh ini). hingga suatu ketika salah seoang teman Roman meminta dibuatkan surat cinta untuk Wulandari kaum hawa yang menjadi primadona disekolah. Karena terlalu menghayati pembuatan surat, tak sadar Roman menuliskan namanya disurat tersebut.

Sehari setelah itu, surat yang dikirimkan ke Wulandari dikembalikan kepada Roman. Dan sejak itu Wulandari mulai memperolok Roman. Romannya Picisan….!!! Pemusuhan pun terjadi. Hingga suatu ketika dilapangan volley ball, secaa tidak sengaja Roman memukul bola terlalu kencang dan bola nyasa mengenai wulandari yang sedang nonton dipinggir lapangan hingga pingsan. Peristiwa itupun berbuntut panjang. Mulai dari pengeroyokan terhadap Roman oleh orang yang tak dikenal hingga perkelahian Roman dengan salah seorang pemuja

Lewat pertengakaran tersebut mereka berdua akhirnya jatuh cinta, tapi mereka malu untuk mengakui kalau mereka saling jatuh cinta. Salah seorang teman Wulandari mencoba mengakurkan mereka berdua tapi hasilnya nol.

Konflik batin mulai menyerang mereka berdua. Disuatu saat waluandari mulai sada bahwa dirinya merindukan Roman. Dan begitu pula Roman. Konflik batin it uterus mereka simpan dan ditutupi oleh Gengsi. Hingga pesta kelulusan Roman taksempat mengucapkan kata maaf dan juga cinta. Karena mersa tak berani untuk berhadapan langsung, maka ditulisnya sebuah surat untuk Wulandari yang berisi permintaan maaf serta ungkapan cintanya. Selang beberapa hari dating pak pos kekos mengantarkan surat dari Wulandari dengan alamat Makasar. Rupanya setelah kelulusan Wulandari pindah kemakasar. Dibacanya surat Wulandari, dan mengertilah bahwa semua sudah terlambat. Wulandari juga mengatakan bahwa dia juga cinta kepada Roman.

Sungguh kisah yang unik. Walaupun cinta mereka tepisah jarak dan terlambat untuk saling mengungkapkan perasaan mereka, tapi itu tak masalah. Yang indah adlah proses tumbuhnya cinta diantara mereka berdua yang unik. Yang mungkin takkan penah terlupakan oleh mereka berdua. Seandainya proses itu bisa kudapatkan denganmu…

Aku jua inginkan cinta yang penuh pengorbanan dan ketabahan seperti kisah antara Minke dan Annelies Mellema. Di tengah penindasan kolonial terhadap kaum pribumi, Minke sebagai segelintir manusia pribumi yang mengenyam pendidikan di H.B.S pun tak lepas dari itu. Di H.B.S sama sekali Minke tak minder karena dia seorang pribumi. Hidupnya yang tergolong enak ditataran pribumi sahaya lainnya, membuat dia memahami arti sebuah perjuangan. Melalui tulisannya disurat kabar belanda, dia menuliskan ide-idenya yang brilian dengan nama samaran Max Tollenar. Namun sayang kiprahnya didunia tulis-menulis tak semulus kisah cintanya. Meskipun cinta tak bertepuk sebelah tangan, namun identitas dirinya sebagai pribumi menghambat segalanya.

Berawal dari niat Surhof untuk mempermalukan Minke didepan keluarga Mellema dengan kedok tantangan, Minke berangkat kekediaman Mellema. Nah, disitulah pertama kali Minke menjumpai bidadari yang menandingi kecantikan ratu Nederland, Annelies Mellema. Niat Surhof untuk mempermalukan Minke kandas ketika ternyata Annelies menyambut dengan baik dan menjadi akrab dengan Minke.

Akhirnya hubungan antara Minke dan Annelies pun berlanjut sampai ke depan penghulu. Dengan banyaknya hambatan dan tentangan dari pihak colonial karena pekawinan dianggap tidak sah, membuat Annelies schock dan jatuh sakit. Di pihak keluarga Minke pun tidak menyetujui sepenuhnya. Ayah Minke yang ketika itu baru saja diangkat sebagai bupati B sempat menentang.

Puncaknya adalah ketika Tuan Herman Mellema ayah Annelies meninggal dan hak perwalian Annelies tidak dapat direbut oleh Nyai Ontosoh ibu kandung Annelies. Keadaan kesehatan Annelies pun semakin memburuk dan harus meninggalkan Hindia-belanda ke Nederland negerinya yang sama sekali asing.

Sedang Annelies dalam keadaan sekarat Minke dan Nyai Ontosoroh berjuang keras untuk mempertahankan perusahaan yang hak perwaliannyapun dilimpahkan kepada anak sah Herman Mellema, Mariut Mellema. Apalah arti seorang priubumi waktu itu dihadapan pengadilan colonial. Hanya menjadi bahan tertawaan. Di Nederland akhinya Annelies meninggal, dan Minke harus berusan dengan pengadilan.

Ku serup lagi mocacino…

Tegukan terakhir mengakhiri pengandaianku pula.

Ah kamu sudah tak ada lagi, gelas juice jeruk mu sudah kosong.

Kembali lagi aku kebalik Gadis Pantai…

tanpa moccacino...

Readmore »»

Tuesday, July 17, 2007

mimpi anak desa (1)

Berkhayal…

Malam yang lelah, aku juga lelah, tapi tak bisa tidur…

Mungkin kamu juga tak bisa tidur sama seperti aku. Kalau memang begitu baiklah aku akan becerita tentang sebuah mimpi, khayalanku, yang semoga saja menjadi nyata. Dan ketika aku tertidur ketika menulis cerita ini, aku berharap besok atau kapanlah selagi aku masih bisa bernafas, semuanya bisa terjadi.

Berawal dari keresahan,…

Musim ini mendekati musim panas, angin bertiup kencang menggoyangakn pohon-pohon pisang dan daun-daun kelapa. Dipinggir sawah yang sudah tak ada padinya ku pandangi layang-layang yang dimainkan oleh teman-temanku. Aku tak bisa memainkan layang-layang tapi aku senang dan ingin sekali bisa bemain layang-layang. Aku punya banyak layangan, mulai dari yang sebesar tubuh ku sampai layang yang biasa dijual ditoko-toko. Layang-layang itu tidak ku beli. Tapi kubuat. Tentunya bukan murni buah tanganku. Bapakku membantuku untuk membuatnya. Terkadang aku ingin sekali seperti layang-layang dapat terbang tinggi. Kubayangkan bahwa aku yang ada diatas sana menari-nari dan bergerak bebas semauku. Semakin angina bertiup kencang semakin menjadi-jadilah aku. Tak terbayangkan betapa bahagianya hati jika bisa terbang seperti layang-layang. Aku senyum-senyum sendiri memandangi layang-layang yang meliuk-liuk diatas sana. Kadang-kadang aku berteiak-teriak memperingatkan temanku untuk berhati-hati jangan sampai layangannya kalah beradu dengan layangan yang lainnya. Saking asiknya menonton layangan kadang aku dimarahi orang tua ku karena pulang menjelang malam. Ditambah lagi dengan baju yang kotor karena berlarian mengejar layang-layang yang putus dan jatuh disawah-sawah yang masih basah. Tapi aku juga tak jera dimarahi, bahkan kadang sedikit cubit dan penyitaan layang-lanyangku.

Siang itu biasa saja aku berangkat kesekolah. Sekolahanku cukup jauh, melewati perbatasan desa. Biasanya aku diatar, tapi lebih sering jalan kaki. Aku tinggal didesa sri Agung dan sekolahanku berada di desa Bandarsari, jaraknya kira-kira 1-2 kilometer. Kelas ku selalu masuk siang karena kelasnya harus gantian dengan kelas yang lain. SD ku hanya punya 7 ruangan. 6 kelas dan satu ruang guru dan kepala sekolah. Sementara setiap jenjang kelas ada dua kelas. Misalnya kelas 2 ada kelas 2a dan 2b. jadi tidak cukup kalau harus semuanya masuk pagi. Memasuki kelas, kelas sudah ramai. Teman-temanku ramai kerkerumun dimeja bagio temanku. Penasaran, aku langsung berlari mendatangi kerumunan tersebut. Astaga ternyata bagio kesekolah membawa layang-layang. Layangan sendaren. Bukan main senangnya aku melihat layangan itu. Warnanya kuning dan merah dengan bentuk seperti pesawat terbang. Bagio dengan bangga menceritakan tentang layangnya. Dia tak senganja mendapatkan layang tersebut. Ketika dia sedang angon kambing dikebun, dia melihat ada layangan tersangkut dipohon ceri yang lumayan tinggi. Dan dia mengambil layangan itu dengan genter. Terang saja aku iri. Bagaimana dia bisa sebeuntung itu. Mendapatkan layangan senaren dnegan mudah.bayangakn saja layangan sendaren. Layangan sendaren yang dijual ditoko atau dipasar harganya berkisar Rp.500 – Rp. 1.000. orangtua ku takkan mau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya itu membelikan aku layang sendaren. Meskipun mampu, mereka akan lebih memilih membelikanku majalah pelangi. Majalah pelangi adalah majalah untuk anak-anak. Khusus untuk kalangan Kristen. Aku langganan majalah itu.

Ketika jam istirahat, aku dan teman-temanku yang lain berkerumun lagi untuk mengagumi layangan sendaren bagio. Kami meminta bagio untuk meaikannya selepas pulang sekolah nanti dan bagio setuju. Seperti rencana bagio menaikan layangan tersebut. Aku berdiri disamping bagio dan beberapa teman yang lain. Sementara itu wahyu memegangi layangan. Pada hitungan ketiga bagio mulai berrusaha menarik-narik benang layangan dan dalam beberapa detik layangan sudah terbang tinggi. Aku terkagum kagum. Suara yang dikeluarkan layangan sendaren semakin membuatku girang. Bunyinya mendengung seperti bunyi kumbang kelapa. Bunyi tersebut berasal dari pita kaset bekas yang dipasangan di pucuk layangan. Diikat pada pangakal dan ujung sebuah bamboo kecil sehingga bamboo kecil tersebut melengkung dan membentuk seperti busur pabnah. Dan ketika tertiup angina pita itu akan bergetar sehingga menciptakan bunyi dengungan.

Setelah kejadian itu aku jadi kejundrungan layanagn sendaren. Sampai-sampai aku merengek meminta dibelikan pada orang tua ku. Terang saja mereka menolak. Alasannya memang masuk akal, yang petama aku sudah punya banyak layangan digudang dan tak satu pun pernah ku terbangkan. Dan kedua jelas aku tak bisa menerbangkan layangan. Dengan dua alasan tersebut akhirnya aku menyerah untuk merengek lagi. Pada hari-hari berikutnya bagio masih membawa layangan sendarennya kesekolah. Dan suatu sore ketika pulang sekolah dia menerbangkan layangannya dengan bangga, angin betiup sangat kencang dan mengakibatkan tali layangannya putus. Dan layanganya pun hilang dari pandangan. Seolah ditelan oleh awan. Bagio tampak murung. Aku lihat bahkan ia sampai menangis.

Malam itu seperti biasa, tetangga-tetangga datang kerumahku untuk nonton TV. Maklum disatu desa mungkin baru beberapa orang saja yang punya TV. Mulai bapak-bapak, ibu-ibu, samapai anak-anak duduk dengan tenang menyaksikan sinetron yang waktu itu masih gencar sekali Jin dan Jun. walaupun gambarnya tidak jernih karenan memang antenna TV ku kurang tinggi sehingga susah mendapat sinyal, mereka tetap antusias. Aku sudah tidur. Tidur lelap. Mungkin kecapekan. Sore tadi aku minta Kijan teman sebayaku yang tak lagi bersekolah mengajariku untuk menaikan layang-layang. Walaupun belum bisa, tapi aku semnagt sekali. Rumah Kijan persis disebelah rumah ku. Rumanhnya tebuat dari gedek dan lantainya tanah. Kijan teman baik ku. Dulu dia bersekolah di SD sri agung.

Aku bermimpi, aku bisa menaikan layang-layang. Aku senang sekali. Tapi karena aku menerbangkan layangan cukup tinggi dan angin semakin kencang, alhasil layangan itu putus. Aku terus mengejar, melewati sawah sawah yang keing, pohon pisang yang sudah tak berbuah lagi. Terus ku kejar. Entah apa yang ada dipikianku saat itu. Aku tahu aku hanya ingin menndapatkan layangan ku kembali. Terlebih layangan itu layangan sendaren. Tapi layangan itu terus berlalu. Dan menghilang. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku pulang dengan muka masam. Lalu ku ambil spidol dan kertas, ku tuliskan begini “kembalikan layangku”. Lalu ku selipkan kertas itu dibalik ragangan layanganku yang biasa. Lalu ku terbangkan tinggi, semakin tinggi, dan sengaja kulepaskan peganganku pada benang layangan. Layangan itu kembali hilang ditelan awan. Dan aku pulang ddengan muka masam, melewati sekolahanku. Sekolahanku sepi tak ada seorang temanpun. Lalu aku berlari kesawah biasa aku dan teman-temanku bermain layangan. Tempat itu juga sepi. Aku lari lagi ke lapangan rumput tempat angon sapi dan kambing. Teman-temanku berada disana dengan seragam sekolah dan memegangi tali kencang kambing dan sapi mereka. Sementara diatasnya layang-layang mereka telah putus dan menghilang ditelan awan.

Readmore »»